Volendam Desa Nelayan

22 10 2017

Volendam Desa Nelayan

Setelah berpuas diri menyaksikan proses pembuatan berlian, masih sempat disuguhi hidangan kopi gratis di salah satu kantin toko berlian tersebut. Suasana yang dingin cukup membuat minat untuk mencoba kopi yang disajikan dengan mesin kopi otomatis. Supaya tidak merasa berhutang telah minum kopi gratis, maka menyempatkan membeli salah satu cendera mata yang tersedia di toko tersebut.


Acara selanjutnya adalah mengunjungi desa nelayan. Ya, ternyata masih banyak desa di Belanda yang bisa dikunjungi. Tujuan pertama adalah Volendam. Volendam adalah desa nelayan dan pelabuhan di Belanda yang kini berubah menjadi tujuan wisata paling populer di ”Negeri Kincir Angin” tersebut. Hampir semua wisatawan mancanegara yang mengunjungi Belanda diajak ke Volendam.


Volendam adalah sebuah desa yang terletak di propinsi Belanda Utara (Noord Holland). Tepatnya pada sebuah tanjung atau aratan yang menjorok ke laut di Kotamadya Edam-Volendam. Sebagai salah satu spot turis, Volendam sangat ramai apalagi pada hari libur. Tidak hanya wisatawan asing yang mengunjungi desa indah ini, tetapi juga warga Belanda sendiri.


Jaraknya sangat dekat dari kota Amsterdam, yaitu hanya sekitar 20 km. Dapat ditempuh dengan waktu sekitar 30 menit dari ibukota negeri kincir angin tersebut. Awalnya, tempat wisata yang cantik ini hanyalah sebuah pelabuhan bagi kapal-kapal ikan milik nelayan Belanda. Kini, keindahannya menjadi daya tarik luar biasa bagi para pelancong yang datang ke Netherlands. 


Mengunjungi Volendam, tak lupa turis-turis juga memanfaatkan foto bersama keluarga dengan kostum pakaian tradisional Belanda. Foto dengan pakaian khas Belanda menjadi suvenir dan kenang-kenangan dari tempat ini. Kostum tradisional nelayan Belanda yang berwarna merah cerah dipadu celana atau rok hitam dan clog (sepatu kayu). Salah satu studio foto yang tersedia, sudah ada sejak jaman dulu, sehingga kita bisa melihat pajangan orang-orang terkenal dari Indonesia yang pernah berfoto di sana. Mereka menempatkan foto-foto tersebut di etalase dan di dinding studio.
Beberapa peserta berfoto dalam grup bersama teman-teman sekantor dan dengan tangkas para fotografer menata peserta untuk berfoto dalam suasana seperti sebuah keluarga nelayan Volendam. Berbagai alat musik yang jaman dahulu digunakan nelayan juga dipajang sebagai pelengkap. Ada juga ember dan keranjang bunga disediakan sebagai pelengkap suasana foto, yang membuat suasana terkesan terkesan tradisional. Namun jangan kuatir semua proses itu berlangsung cepat, karena banyak pengunjung lain yang sedang antri.


Hal yang juga menarik dilakukan dalam kunjungan ke Volendam adalah menyusuri jalan-jalan dan menikmati kawasan perumahan diantara banyak lorong rumah. Demikian juga menyusuri jalan di sepanjang tanggul, dan pusat kota tua. Ketika tiba di bagian desa Volendam yang langsung terbuka ke arah bibir pantai, maka wajah kita akan tersapu angin laut dan suasana dingin akan sangat terasa. 


Lebih masuk ke arah keramaian Volendam, maka kita akan menemukan deretan toko-toko penjual suvenir khas Belanda. Deretan kios-kios dan gerobak akan menyambut ketika tiba turun dari kendaraan bis pariwisata. Ada aneka barang yang dijual, mulai dari suvenir, bunga-bunga segar dan berbagai bibit bunga khas Belanda seperti bunga tulip, baju, tas dan pakaian, hingga makanan seperti keju, roti, dan aneka kue.


Di antara deretan toko-toko cendera mata, kita dapat mencicipi makanan khas desa Volendam dari restoran yang selalu dipadati pengunjung. Menu andalan mereka adalah masakan berbahan dasar ikan. Kami juga mendapatkan hidangan ikan dengan berbagai variasi sayuran dan kentang. Pastinya jangan berharap ada nasi dan sambal. Namun jangan kuatir, pemandu wisata kami, selalu datang dengan sambal khas. Aneka hidangan laut yang dijual di tempat makan yang tersebar di seputar lokasi. Selain udang, hidangan laut yang juga disajikan adalah cumi dan ikan.


Tak ketinggalan di Volendam, ada museum yang juga menjadi spot bagi peserta untuk berfoto dan berbelanja. Ada banyak hal yang dapat dilihat di sini, tentunya semuanya berkaitan dengan sejarah desa Volendam yang indah itu. Peserta juga mengunjungi pabrik pembuatan keju dan mencicipi berbagai variasi rasa keju. Ada juga rasa cabai, herbal dan rasanya enak, mungkin karena dingin, jadi makanan apapun menjadi enak.


Puas berbelanja dan menikmati suasana desa dengan berbagai foto di sudut-sudut perumahan, peserta diajak ke desa lainnya. Tunggu liputan berikutnya di desa sekitar Amsterdam yang tak kalah menarik pemandangannya. (AA)

Advertisements




Site Visit Beijing

8 06 2017

Kegiatan pertama di Beijing adalah kunjung ke 2 lokasi contact center. Yang pertama ke ICBC Bank dan kedua adalah Lenovo, produsen komputer.

Pada kunjungan ke ICBC, tamu yang terdiri dari beberapa peserta dari berbagai negara menerima penjelasan mengenai perkembangan pelayanan contact center ICBC. Pada intinya teknologi digital dengan dukungan artificial intelligence sangat ditonjolkan, begitu juga pelayanan chat dan sms.

Turut hadir pada kunjungan ini adalah asosiasi dari Australia, auscontact, kemudian Thailand, Korea, Hongkong, Malaysia dan Indonesia. Kami disambut oleh direktur yang memimpin contact center ICBC Bank. 

Menempati hampir semua lantai di salah satu gedung berlantai 16, contact center ICBC menggunakan sekitar 1,200 seat dalam berbagai pelayanan termasuk telepon, email, sms, chat dan robotic. Mereka menggunakan aplikasi yang dibuat sendiri dan disesuaikan dengan kondisi pelayanan yang dibutuhkan.

Setelah kunjungan ke ICBC dilanjutkan dengan kunjungan ke Lenovo Service, pada salah satu bagian yang memberikan pelayanan teknologi komputer. Bagian ini memberikan dukungan teknis atas purna jual, utamanya jika ada masalah dengan aplikasi.

Penjelasan dimulai dengan milestone dari Lenovo dan berbagai perkembangan yang mereka lakukan. Presentasi dibawakan dalam bahasa China dan diterjemahkan oleh salah satu peserta dari Hongkong. Yang menarik ada TV interactive yang digunakan pada saat presentasi, 3 buah TV yang digabungkan dan menjadi panel touch screen.

Tak banyak yang bisa digali dan kami juga tidak bisa masuk ruangan contact center, karena mereka tidak mengizinkan. Kami cukup melihat dari ruangan yang tembus pandang.

Terlihat berbagai model notebook dipajang dan beberapa petugas sibuk memberikan pelayanan melalui telepon dengan headset di kepala. (AA)