Asiatique Thailand, Belanja, Kuliner dan Wisata

12 11 2017

Pastikan menyempatkan mengunjungi tempat ini jika ke Thailand. Anda akan dipuaskan dengan berbagai hal, mulai dari wisata kuliner, belanja oleh-oleh, juga ada wisata sungai dan bianglala. Kebanyakan makanan yang tersedia adalah sea food dengan makanan favorit adalah cumi versi besar. Tentunya tak ketinggalan sticky mango rice.

Tempat ini biasanya ramai menjelang sore sampai dengan malam. Semakin malam, semakin banyak pengunjung yang datang untuk menikmati berbagai makanan khas Thailand. Akan tampak berbagai sudut restoran penuh dengan warga lokal dan wisatawan yang sedang berbelanja.

Bagi yang suka belanja, berbagai pilihan pakaian dan pernak-pernik khas Thailand tersedia disini. Ada kaos bergambar gajah, selendang, tas, karpet dan berbagai kerajinan lainnya. Banyak diantaranya dikerjakan dengan hand-made. Sesuatu yang menjadi unik untuk jadi buah tangan, bahkan bisa diberikan pernak-pernik yang sesuai identitas pembeli. Harganya tentunya juga agak bersahabat, mulai dari harga Bath 10, sampai dengan ratusan bahkan ribuan Bath tersedia.

Beberapa barang memang harus dibeli dalam kuantitas yang agak banyak, supaya mendapatkan harga yang lebih murah. Ada yang beli 10 gratis 1, atau ada juga beli satu bayar Bath 250, jika beli 3 harganya Bath 660 dan kalai beli 5, maka lebih murah lagi. Ada juga yang mau ditawar, bahkan jika sudah menuliskan harganya, mereka masih memberikan harga lebih murah. Namun tidak semua begitu, ada yang sudah tidak mau ditawar.

Selain dari Indonesia atau Malaysia, Jika perhatikan harga yang terpasang dan tulisan yang disediakan, terlihat bahwa banyak wisatawan dari China, Jepang atau mungkin Korea yang berkunjung ke tempat ini. Bagi, wisatawan Indonesia, cukup mudah, karena beberapa toko sudah mampu berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia.

Kali ini rombongan peserta Benchmarking dari ICCA menyempatkan berkunjung ke Asiatique dan mendapatkan wisata makan malam di atas kapal, Dinner Cruise. Sebelum on board, peserta punya waktu sekitar 1,5 jam untuk belanja, sehingga tampak beberapa peserta membawa barang belanjaannya ke atas kapal. (AA)

Advertisements




Contact Center Tuna Wicara

12 11 2017

Apakah anda pernah membayangkan jika seorang yang tidak bisa bicara mengalami kesulitan ? Kepada siapa ia harus meminta bantuan ? Dengan keterbatasan komunikasi yang mereka miliki, maka hanya orang tertentu yang mengerti bahasa isyarat yang mereka kuasai.

Dalam kunjungan ke Thailand, kami di berikan kesempatan melihat lebih dekat upaya yang dilakukan pemerintah untuk membantu penyandang cacat ini. Melalui yayasan, pemerintah memberikan bantuan untuk menyediakan contact center layanan tuna wicara. Layanan ini dikelola oleh TTRS (Thai Telecommunication Relay Service), yang juga mendapatkan dukungan dari Universal Fondation for Person with Disabilities.

Di berbagai tempat disediakan akses untuk tuna wicara dapat menghubungi contact center ini. Tentunya bukan voice call, akan tetapi menggunakan video call. Dengan demikian petugas contact center dapat menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan mereka.

Jika pelanggan tersebut menginginkan pelayanan seperti memesan tiket pesawat atau pesan pizza atau berbagai kebutuhan lainnya, maka contact center akan menjadi fasilitator. Contact center akan menghubungi layanan yang diinginkan dan agent akan berkomunikasi secara normal via telepon dan sekaligus menggunakan bahasa isyarat kepada pelanggan. Jadi semacam call conference, dimana 3 pihak berkomunikasi dengan media yang berbeda.

Sumber pendanaan mereka tidak hanya dari pemerintah, mereka juga berusaha untuk mendapatkan donasi melalui berbagai kegiatan yang dilakukan. Pengembangan contact center mereka terus lakukan, seiring dengan ketersediaan anggaran yang mereka dapatkan.

Mereka juga mengajak peserta untuk membangun hal serupa di negara masing-masing. Berbagai peserta dari berbagai negara cukup tertarik dengan ide yang dilakukan dan terkesan dengan upaya yang telah dilakukan. (AA)





Sticky Mango Rice

12 11 2017

Makanan yang satu ini hanyalah dua potong mangga, ditambah nasi ketan serta santan dan beras yang digoreng kering. Begitulah Thailand mengemas sesuatu yang menjadi daya tarik wisatawan. Jadinya kurang berkesan, jika ke Thailand tanpa merasakan makanan ini.

Hampir di setiap tempat ada makanan ini, dengan harga yang standard. Di pelataran Central World atau di Asiatique harganya Bath 100, tapi di Bandara, harganya menjadi Bath 180. Di hampir semua tempat penjual makanan, dengan harga yang sama dan manis mangganya juga sama. Walaupun begitu, jika masuk ke restoran, harganya bisa 2 kali lipatnya.

Perpaduan mangga yang lembut dan nasi yang kenyal serta dipadu dengan santan yang membuatnya enak disantap. Sepertinya jenis mangga yang digunakan mirip harum manis di Indonesia, tapi seratnya sedikit. Yang jelas manis mangganya, membuat kita mau mencoba dan mencoba lagi.

Selama perjalanan ke Thailand pada kunjungan kali ini, setiap hari saya menikmati Sticky Mango Rice, bisa pagi atau malam hari. Hari pertama saya membeli di pelataran pertokoan iSetan, hari kedua ditraktir di Restoran Jim Thomson, hari ketiga kembali membeli di pelataran Central World dan terakhir sebelum pulang, bisa makan di Bandara.

Saya coba bandingkan dengan manggo jus yang ditawarkan berharap mendapatkan rasa yang sama, ternyata … berbeda. Pada intinya, jangan lupa menikmati Sticky Mango Rice jika ke Thailand dan makannya jangan buru-buru, rasakan manisnya mangga yang dibalut dengan nasi ketan yang lembut. Hmmm … nyami (AA).





Taste of Thailand

12 11 2017

Empat hari waktu yang sangat padat dengan berbagai agenda, mulai dari APCCAL Leaders meeting, acara conference, Gala Dinner, Site Visit, Cruise dan Belanja. Pastinya tidaklah cukup untuk memuaskan keinginan semua pihak yang ingin belanja, ingin lihat budaya Thailand, menikmati makanan khas dan berbagai keinginan lainnya.

Benchmarking kali ini, ICCA datang dengan rombongan terbesar yaitu 115 peserta yang berasal dari Pemenang Top 10, Pemenang Individu Gold dan Silver serta Anggota Platinum dan peserta talent. Semuanya berbaur untuk saling mengenal dan berbagi pengalaman, tanpa batasan perusahaan atau contact center.

Berhubung jumlahnya banyak dan kapasitas bis max 45, maka panitia membagi dalam 3 group, dengan masing-masing 37-40 peserta per bis. Bis A dan Bis B merupakan peserta Benchmarking, sedangkan Bis C merupakan peserta APCCAL.

Agenda acara APCCAL yang padat coba disiasati oleh panitia, sehingga banyak hal yang bisa dilakukan. Pada dasarnya dibagi 2 kelompok besar yaitu Kelompok APCCAL dan Kelompok Benchmarking. Yang ikut kelompok APCCAL adalah peserta yang mengikut semua agenda APCCAL yaitu Conference, Gala Dinner dan Site Visit serta Dinner Cruise. Sedangkan peserta Benchmarking, hanya mengikuti pembukaan acara conference, Site Visit dan Dinner Cruise.

Bagi peserta Benchmarking bisa banyak waktu untuk berbelanja dan explore Bangkok. Setelah mengikuti acara conference dan makan siang, mereka dibawa ke beberapa pusat belanja seperti Pratunam dan MBK. Yang senang belanja dengan harga yang bersahabat dan tentunya rajin menawar, bisa menikmati acara ini. Bahkan bisa menambah koper untuk memenuhi pesanan oleh-oleh dari rekan kerja dan keluarga.

Bagi peserta APCCAL harus sedikit bersabar, karena acara belanjanya sedikit. Mereka harus tinggal di hotel sampai semua acara Gala Dinner selesai. Beruntung masih diberikan kesempatan belanja di Asiatique sebelum menikmati acara makan malam di Cruise. Mereka juga mendapatkan sesi belanja terakhir sebelum ke bandara, karena pesawatnya diatur dengan penerbangan yang agak sore. (**)





Volendam Desa Nelayan

22 10 2017

Volendam Desa Nelayan

Setelah berpuas diri menyaksikan proses pembuatan berlian, masih sempat disuguhi hidangan kopi gratis di salah satu kantin toko berlian tersebut. Suasana yang dingin cukup membuat minat untuk mencoba kopi yang disajikan dengan mesin kopi otomatis. Supaya tidak merasa berhutang telah minum kopi gratis, maka menyempatkan membeli salah satu cendera mata yang tersedia di toko tersebut.


Acara selanjutnya adalah mengunjungi desa nelayan. Ya, ternyata masih banyak desa di Belanda yang bisa dikunjungi. Tujuan pertama adalah Volendam. Volendam adalah desa nelayan dan pelabuhan di Belanda yang kini berubah menjadi tujuan wisata paling populer di ”Negeri Kincir Angin” tersebut. Hampir semua wisatawan mancanegara yang mengunjungi Belanda diajak ke Volendam.


Volendam adalah sebuah desa yang terletak di propinsi Belanda Utara (Noord Holland). Tepatnya pada sebuah tanjung atau aratan yang menjorok ke laut di Kotamadya Edam-Volendam. Sebagai salah satu spot turis, Volendam sangat ramai apalagi pada hari libur. Tidak hanya wisatawan asing yang mengunjungi desa indah ini, tetapi juga warga Belanda sendiri.


Jaraknya sangat dekat dari kota Amsterdam, yaitu hanya sekitar 20 km. Dapat ditempuh dengan waktu sekitar 30 menit dari ibukota negeri kincir angin tersebut. Awalnya, tempat wisata yang cantik ini hanyalah sebuah pelabuhan bagi kapal-kapal ikan milik nelayan Belanda. Kini, keindahannya menjadi daya tarik luar biasa bagi para pelancong yang datang ke Netherlands. 


Mengunjungi Volendam, tak lupa turis-turis juga memanfaatkan foto bersama keluarga dengan kostum pakaian tradisional Belanda. Foto dengan pakaian khas Belanda menjadi suvenir dan kenang-kenangan dari tempat ini. Kostum tradisional nelayan Belanda yang berwarna merah cerah dipadu celana atau rok hitam dan clog (sepatu kayu). Salah satu studio foto yang tersedia, sudah ada sejak jaman dulu, sehingga kita bisa melihat pajangan orang-orang terkenal dari Indonesia yang pernah berfoto di sana. Mereka menempatkan foto-foto tersebut di etalase dan di dinding studio.
Beberapa peserta berfoto dalam grup bersama teman-teman sekantor dan dengan tangkas para fotografer menata peserta untuk berfoto dalam suasana seperti sebuah keluarga nelayan Volendam. Berbagai alat musik yang jaman dahulu digunakan nelayan juga dipajang sebagai pelengkap. Ada juga ember dan keranjang bunga disediakan sebagai pelengkap suasana foto, yang membuat suasana terkesan terkesan tradisional. Namun jangan kuatir semua proses itu berlangsung cepat, karena banyak pengunjung lain yang sedang antri.


Hal yang juga menarik dilakukan dalam kunjungan ke Volendam adalah menyusuri jalan-jalan dan menikmati kawasan perumahan diantara banyak lorong rumah. Demikian juga menyusuri jalan di sepanjang tanggul, dan pusat kota tua. Ketika tiba di bagian desa Volendam yang langsung terbuka ke arah bibir pantai, maka wajah kita akan tersapu angin laut dan suasana dingin akan sangat terasa. 


Lebih masuk ke arah keramaian Volendam, maka kita akan menemukan deretan toko-toko penjual suvenir khas Belanda. Deretan kios-kios dan gerobak akan menyambut ketika tiba turun dari kendaraan bis pariwisata. Ada aneka barang yang dijual, mulai dari suvenir, bunga-bunga segar dan berbagai bibit bunga khas Belanda seperti bunga tulip, baju, tas dan pakaian, hingga makanan seperti keju, roti, dan aneka kue.


Di antara deretan toko-toko cendera mata, kita dapat mencicipi makanan khas desa Volendam dari restoran yang selalu dipadati pengunjung. Menu andalan mereka adalah masakan berbahan dasar ikan. Kami juga mendapatkan hidangan ikan dengan berbagai variasi sayuran dan kentang. Pastinya jangan berharap ada nasi dan sambal. Namun jangan kuatir, pemandu wisata kami, selalu datang dengan sambal khas. Aneka hidangan laut yang dijual di tempat makan yang tersebar di seputar lokasi. Selain udang, hidangan laut yang juga disajikan adalah cumi dan ikan.


Tak ketinggalan di Volendam, ada museum yang juga menjadi spot bagi peserta untuk berfoto dan berbelanja. Ada banyak hal yang dapat dilihat di sini, tentunya semuanya berkaitan dengan sejarah desa Volendam yang indah itu. Peserta juga mengunjungi pabrik pembuatan keju dan mencicipi berbagai variasi rasa keju. Ada juga rasa cabai, herbal dan rasanya enak, mungkin karena dingin, jadi makanan apapun menjadi enak.


Puas berbelanja dan menikmati suasana desa dengan berbagai foto di sudut-sudut perumahan, peserta diajak ke desa lainnya. Tunggu liputan berikutnya di desa sekitar Amsterdam yang tak kalah menarik pemandangannya. (AA)





Kanal Amsterdam

22 10 2017

Hari terakhir kunjungan ke Eropa, pemandu wisata mengajak peserta menyusuri kanal Amsterdam. Memang tak lengkap rasanya jika berlibur ke Belanda tanpa mengunjungi wisata kanalnya. Kanal-kanal ini dibangun pada abad ke-17 dan merupakan simbol kebanggaan kota Amsterdam yang memiliki nilai budaya yang sangat tinggi.


Kanal-kanal di sini memiliki panjang lebih dari 100 km. Yang menarik dari tempat wisata di Belanda ini adalah Anda bisa berkeliling kota dengan menyusuri kanal-kanal tersebut. Kabarnya ada sekitar 1.500 jembatan ditambah dengan sekitar 1.500 bangunan monumental yang tentunya akan memberikan pengalaman berlibur yang unik dan berbeda untuk Anda.


Sepanjang perjalanan kapten kapal, yang menjadi pemandu wisata selama di perahu tersebut, memberikan banyak informasi mengenai bangunan yang dilewati. Peserta juga dapat mendengarkan berbagai informasi dari alat bantu yang disediakan. Di setiap meja disediakan headset untuk mendengarkan informasi dalam berbagai bahasa, salah satunya Bahasa Indonesia. Kita hanya perlu mengatur pilihan bahasa dan mengatur volume yang diinginkan.


Inilah momen yang menyenangkan, karena kami bisa menikmati keindahan kota tua dengan menggunakan kapal kecil Canal Cruise, untuk menyusuri kanal-kanal yang airnya bersih karena bebas dari sampah. Terlihat sepanjang penyusuran tersebut menunjukkan bagaimana Belanda menghargai dan melestarikan sejarah. Rumah-rumah tua dirawat dengan sangat baik, sehingga ada bangunan yang dari tahun 1600an masih berdiri kokoh. 
Rombongan yang terdiri dari 40 orang ditambah beberapa penumpang lain dari berbagai negara, termasuk dari Amerika Serikat. Jika peserta lainnya sudah tua-tua, kami rata-rata masih muda. Jika peserta lainnya duduk diam menikmati suasana, kalau kami sibuk berfoto ria dan sangat ribut. Bahkan sempat ditegur oleh kapten kapal, supaya hati-hati dalam mengambil pose di bagian buritan.


Kapten kapal yang sangat fasih dalam menyampaikan informasi menggunakan Bahasa Inggris. Setiap kali akan melewati suatu bangunan, ia akan bercerita mengenai kisah bangunan tersebut. Mulai dari hotel, rumah pejabat, toko tertentu dan berbagai bangunan yang menjadi tempat tinggal orang terkenal.
Sepanjang kanal terlihat beberapa perahu yang juga digunakan sebagai alat transportasi masyarakat. Sudah terkenal di Amsterdam bahwa pllihan transportasi yang mudah adalah sepeda dan perahu. Tak heran jika banyak penduduk yang punya perahu dan menyediakan dermaga untuk parkir atau naik-turun perahu. Bahkan ada toko tertentu yang menyediakan persinggahan untuk memudahkan dijangkau dari dermaga yang disediakan di belakang gedung mereka. 


Setelah menjelajah selama 30 menit, akhirnya kami sampai juga di tempat persinggahan kami yaitu Gassan 121. Tempat ini merupakan salah satu tempat pengasah berlian yang terkenal. Walaupun di Amsterdam kita tidak dapat menemukan tempat galian berlian, akan tetapi kota ini menjadi salah satu pusat pengasah berlian yang sangat unggul.

​​
Bongkahan batu berlian akan datang dari berbagai wilayah di dunia, mulai dari India, Rusia, Indonesia sampai dengan Afrika. Proses pembuatan berlian diperlihatkan oleh pemandu toko dalam Bahasa Indonesia. Kita dapat melihat bahwa ada 6 proses pengasahan yang dilakukan. 


Tentunya tidak menarik jika tidak melihat langsung bagaimana bentuk berlian tersebut diikat dengan cincin atau perhiasan lainnya. Pramuniaga tersebut juga menyediakan konsultasi dengan berbagai ukuran berlian yang dipamerkan. Mulai dari yang besar dengan harga yang fantastis tentunya, dan akhirnya dengan ukuran yang paling kecil. Terlihat hanya sebuah titik yang berkilau dan dipasang di sebuah cincin yang sudah disediakan. (AA)





Eiffel dari Dekat

21 10 2017

Berkunjung ke Paris pastinya ingin melihat lebih dekat dengan menara yang satu ini. Eiffel, menara yang namanya sama dengan pembuatnya, yang merupakan rangka baja bersilang-silang. Pada dasarnya tidak terlalu tinggi, akan tetapi ada saja cerita novel atau film yang menginspirasi untuk kesini. Bahkan sebagian peserta Benchmarking Tour Europe ICCA menanti-nanti jadwal kunjungan ke Eiffel. Rasanya tak sabar mereka ingin berfoto dari dekat. Ada yang sudah merancang dengan beberapa tulisan titipan yang dibawa dari tanah air.
Saya mencoba memahami dengan mengelilingi menara Eiffel dan mengambil foto dari 2 sisi berbeda. Namun, berada di dekat menara Eiffel, pada dasarnya sama saja pada saat kita dekat dengan Monas. Tentunya ada kesan penasaran yang menyebabkan banyak orang tertarik berfoto dan mengunjungi menara ini. Bahkan ada yang rela antri untuk menggunakan lift menuju puncak menara ini.


Tergantung cuacanya, pada saat musim gugur atau hampir musim dingin, suasana sejuk membuat kesan romatis sepanjang hari. Bagi saya, cuaca dan suasana kota yang membuat hal itu mendukung untuk kita merasa romantis di kota Paris. Tentunya harus ada yang diajak untuk menjadi teman menikmati suasana romantis itu, jika tidak, cukup menikmati pemandangan dan cemburu melihat suasana di sekeliling kita.
Tak jauh beda dengan kota besar lainnya yang serba macet, apalagi pada jam masuk dan pulang kantor. Namun dengan cuaca yang sejuk memungkinkan kita berjalan kaki dari satu lokasi dengan lokasi lainnya. Begitu juga suasana pada saat mendekati lokasi menara ini. Banyaknya turis yang datang menyulitkan kendaraan untuk parkir. Namun dengan penjagaan yang ketat, bahkan oleh pihak militer bersenjata, maka suasana terjaga dengan baik.


Jika ada yang mengatakan sekitar menara Eiffel banyak copet, syukur Alhamdulillah semua peserta dalam rombongan saya tidak menemukan hal itu. Yang merepotkan hanya beberapa penjual souvenir berkulit hitam yang tak pernah menyerah menawarkan dagangannya. Bahkan mereka pandai berbahasa Indonesia, menawarkan dagangan ala pedagang pasar. “Ayo beli, murah, cuma 1 euro dapat 5”, begitu mereka biasanya menawarkan gantungan kunci dengan menara Eiffel. 


Yang jelas semua peserta rombongan seakan tak puas diri untuk berfoto, baik sendiri maupun berkelompok. Berbagai gaya dan sudut pengambilan gambar sudah dilakukan dan semuanya merasa tak ingin melewatkan kesempatan pertama ke Eropa. Bahkan ada yang mengajak turis asing yang berkunjung kesana. Mungkin juga tertarik dengan hidup mancung dan wajah yang berbeda dengan di tanah air.
Walaupun tak ada yang sangat istimewa dari tempat ini, pastinya jika ada kesempatan bisa ajak pasangan mengunjungi kota ini. Siapa tahu ada hal lain yang ditemukan dan kemungkinan ada kesan tersendiri yang berbeda. Kapan ? Yah, Tunggu saatnya liburan tiba.

(AA)