Kenapa Suka Melanggar Traffic Light ?

16 02 2017

Warnanya mudah dikenali yaitu merah, kuning dan hijau. Merah berarti berhenti, kuning berarti hati-hati dan hijau berarti jalan atau boleh lewat. Mudah bukan ? Bahkan anak saya yang paling kecil, selalu meningatkan bahwa lampu hijau saatnya berjalan atau lampu merah saatnya untuk berhenti.
Namun apakah semua patuh dengan tanda lalu lintas ini ? Belum tentu, berapa sering kita melanggar aturan lalu lintas dari mesin otomatis ini. Kenapa kita melanggarnya ? Apakah karena tidak ada polisi atau sedang terburu-buru, sedang sepi, dan berbagai alasan lainnya.

Sebaliknya kenapa kita mau patuh dengan benda yang satu ini. Pastinya karena kita ingin keteraturan. Kesadaran bahwa ketidak-teraturan dampaknya berpengaruh pada kemacetan dan menyebabkan perjalanan menjadi lebih lambat.

Siapa yang membuat kesepakatan ini, mari kita intip wikipedia. Lampu lalu lintas listrik dikembangkan pada tahun 1912 oleh Lester Wire, seorang polisi di Salt Lake City, Utah, yang juga digunakan lampu merah hijau. Pada tanggal 5 Agustus 1914, American Traffic Signal Company memasang sistem sinyal lalu lintas di salah satu jalan di Cleveland, Ohio.

Sejak itu semua sepakat dengan lampu merah dan hijau ini, sehingga pada setiap persimpangan jalan, secara bergiliran pengendara bisa melewati persimpangan jalan. Lampu ini diterapkan hampir sama di banyak negara. Saya belum melihat ada lampu berbeda di negara tertentu.

Coba lihat pemandangan perempatan di Jakarta, lampu lalu lintas ini sudah diganti dengan ukuran yang lebih besar dan disertai dengan hitung mundur. Begitu juga sudah menggunakan teknologi dengan lampu LED yang lebih hemat energi. Namun apakah perilaku pengendara menjadi berubah lebih baik ? Ternyata tidak, pada banyak kesempatan kita banyak melanggar lampu ini.

Sangat sulit untuk menemukan kedisiplinan untuk mematuhi aturan ini, khususnya untuk pengendara sepeda motor. Bahkan pada saat petugas Polisi yang mengatur lalu lintas, terkadang tidak bisa mengatur kendaraan sepeda motor yang melewati batas lampu lalu lintas. Seakan lampu lalu lintas hanya menjadi penghias jalanan.

Pada saat kesepakatan atau aturan sederhana sudah dilanggar, maka yang terjadi adalah ketidaknyaman. Bahkan pelakunya bisa kita sendiri, karena mencontoh orang lain yang melakukannya. Jadi pada akhirnya, kita harus bisa menahan diri, jika orang lain bisa melakukannya, bukan berarti kita harus mengikutinya.

Sampai kapan ini akan lebih teratur, sampai masing-masing dari kita mulai menyadari bahwa pengaturan lampu lalu lintas untuk kepentingan bersama. Bisa juga sampai kita menggunakan angkutan umum dan semakin sedikit yang membawa kendaraan sendiri. Kita tunggu saja. (AA)

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: